Selasa, 05 Oktober 2010

MIKROSKOPIS BIJIh

Correction of Result
mineral-mineral  yang diteliti pada mikroskop harus dikoreksi untuk perputaran selama jalan lintasan yang menaik menyangkut sinar pantul itu sampai mencerminkan plat. harus ditentukan secara terpisah untuk masing-masing mikroskop untuk masing-masing panjang gelombang cahaya yang digunakan.
Suatu mikroskop polarisasi biasa di atas panggung (menyangkut) mikroskop cermin dan menerangi sistem dari di bawah. pada setiap 5° perputaran penganalisis membaca kemudian mengarahkan dengan arah yang sama, Mengulangi langkah-langkah dengan polarisator pada 10°, 15, 20°, dan 25° dari posisi asli nya.
Nilai-nilai beta yang yang terukur atau alfa harus dikoreksi untuk suatu beda fase  ditambahkan selama jalan lintasan sinar melalui idecting plat. Penggunaan hasil yang belum dikoreksi digunakan untuk membandingkan hasil pengukuran, karena tidak hasil yang sama pada setiap hasil koreksi mikroskop.
Sifat optis mineral bijih          
Karena pantulan dari plat, pada peningkatan  nilai Ar dan 2v, persebaran nilai dari berbagai macam mineral  memiliki cakupan  yang lebih luas dan oleh Karena itu memudahkan pembedaan dari  mineral tersebut berdasarkan banyaknya perputaran yang disebabkan oleh mineral itu.
Metode Hallimond dengan reflector prisma
Mikroskop tertentu memiliki peralatan optic yang membolehkan penggunaan reflector prisma  pada pengukuran Ar. Butir untuk diukur dibawa ke pusat dari  bidang. Suatu teropong bintang sekarang telah  diganti dengan normal ocular. Nakamura plat dimasukkan dalam slot tabung dengan batas antara kedua belah plat yang diorientasikan persisnya  kearah utara-selatan. kedua prosedur sekarang boleh diikuti. Untuk yang pertama, bagian teropong bintang dipusatkan pada batas atas  Dari Nakamura plat, dan pada stage rak bawah sampai butir  diselidiki dilihat di fokuskan dengan gambaran dari lapisan batas plat. Pengukuran kini dilakukan dengan cara yang umum. Suatu objek 16 mm memberikan contras yang terbaik. Namun objek tersebut mungkin  digunakan untuk butir yang kecil. Pada prosedur ke dua, bagian teropong bintang dipusatkan pada figur polarisasi dan batas plat Nakamura. hanya separuh figur polarisasi dapat dilihat. pengaturan Yang benar Penggunaan dari  reflektor prisma di (dalam) pengukuran Ar mempunyai keuntungan yang. nilai teramati Ar tidaklah memerlukan koreksi; yaitu., pada suatu titik yang dengan seketika bersebelahan pada tepi dari  reflektor prisma, yang mana  membentuk batas lurus/langsung  yang menerangi bidang itu. Dengan Leitz Dialux-Pol mikroskop, ocular normal dapat digunakan, sebagai ganti teropong bintang, bersama dengan Bertrand lensa yang bagian atas.
Metoda ketiga  Penggunaan dari  reflektor prisma di (dalam) pengukuran Ar mempunyai keuntungan yang. nilai teramati Ar tidaklah memerlukan koreksi. Batas Nakamura plat dilihat pada fokus yang jelas (di) atas gambaran orthoscopic dari  butir.
 Penggunaan dari  reflektor prisma di (dalam) pengukuran Ar mempunyai keuntungan yang. nilai teramati Ar tidaklah memerlukan koreksi. Suatu kesulitan praktis muncul, dari fakta ( lihat Bab 2, penyesuaian mikroskop).bahwa reflektor prisma dari suatu mikroskop adalah tidak cocok  pada kelurusan paralel dengan reflektor plat, dan sedangkan orientasi tepat dari  polarisator berkenaan dengan plat reflektor mudah terpenuhi, tidak begitu tepat prosedur untuk mengorientasikan polarisator berkenaan dengan prisma pantul tersedia. Ketelitian pengukuran Ar, dan Beta bervariasi dengan mineral di bawah pengamatan. Karena kebanyakan mineral, sudut putar kurang dari 8dan beda fase kecil. dan untuk kesalahan ini dalam pengukuran Ar, apakah biasanya ± 0.1° sampai  ± 0.3°. penerangan kuat adalah pengukuran akurat yang perlu dilakukan. Ketika beda fase naik, dan perputaran penjuru/sudut menjadi yang lebih tinggi dibanding 8°, ketelitian pengukuran dalam beberapa hal jatuh pada ± 0.4° untuk ± 0.5°. Beda fase dan perputaran sudut covellite untuk lampu merah menjadi sangat besar yang hanya pengukuran secara garis besar dapat dibuat. Untungnya, ketelitian pengukuran adalah terbaik dalam cakupan di mana jika ketepatan diperlukan untuk identifikasi mineral. Di samping statemen untuk penyimpangannya itu kadang-kadang sudah dibuat, ketelitian pengukuran βG kurang dari itu adalah Ar  relative terhadap cakupan beda fase temu sampai sekarang pada  pekerjaan kwantitatif, dan pada  kasus yang fatal adalah kesalahan di (dalam) menentukan rugi mika mungkin lebih dari 1.0°. Nilai-Nilai 2v selalu berhubungan dengan keakuratan, faktanya adalah lebih bermanfaat menurut mutu dibanding menurut banyaknya.
Pengukuran Perputaran Sudut Standard
Kebanyakan  mineral opac adalah memiliki nilai-nilai Ar  dan 2v adalah nilai maksimum. Untuk mineral yang berporos tunggal ( hexagonal dan tetragona1), nilai maksimum untuk semua panjang gelombang akan diberi oleh bagian parallel manapun kepada itu c-axis. Untuk  yang orthorhombic, monoklin, dan mineral triklin, hubungannya adalah sedikit lebih sederhana. Untuk  yang orthorhombic, monoklin, dan mineral triklin, hubungannya adalah sedikit lebih sederhana. Karena mineral ini, 589 mM diambil panjang gelombang standard, dan bagian dari suatu mineral yang memberi nilai maksimum Ar untuk 589 mM diambil ketika profil normal. Nilai yang diagnostik 2v adalah juga ditentukan dari bagian ini. Nilai-nilai Ar yang didiagnostik dan 2v untuk panjang gelombang yang lain diambil ketika nilai-nilai itu  diberi oleh profil normal. Nilai-Nilai [yang] menurut banyaknya ini  menyatakan pemisahan  ( DAr) tentang perputaran sudut dan yang dispersic ( DE) tentang ellipticas.
Dalam praktek, orientasi butir mineral opaq adalah tidak biasanya dikenal, sebab itu Ar, harus dihitung sedikitnya 8 atau 9 dari butirannya yang menunjukan anisotropism paling kuat( separasi paling luas dari isogyres), pada 589 m, agar peninjau dapat memastikan bahwa nilai karakteristik dari butiran yang diberikan terdapat kesalahan.
Beberapa pola pemisahan yang berbeda ditunjukkan oleh berbagai mineral.itu untuk ilvaite, nilai dari Ar  semakin meningkat seiring dengan meningkatnya panjang gelombang ( gambar 5.22), sedangkan untuk berthierite Ar, berkurang seiring dengan berkurangnya panjang gelombang.
Variasi pola dalam mengidentifikasi mineral, beberapa mineral, pengukuran dari suatu panjang gelombang yang  diperlukan untuk menentukan pola pada suatu mineral. Pada saat warna menyusuri dari  figur pyrolusite warna menunjukkan bahwa itu pembubaran atau yang biasa disebut dengan polarisation figure. Sudut perputaran bermanfaat terutama manakala digunakan di dalam eonlunct ion dengan efektiviti pengukuran. Perputaran yang diproduksi oleh suatu mineral anisotrop adalah suatu fungsi k perbedaan antara indeks jamak pembiasan dari  mineral dan idex pembiasan dari  medium ( udara atau minyak), Secara umum, yang lebih tinggi index dari  mimersion medium, yang lebih besar sudut perputaran. Ini mempunyai nilai di dalam litification.

Penentuan Kwalitatif Beda Fase ∆X,Y
            Tanda beda fase ∆x,y, mungkin  ditentukan dengan dua jalan, dilihat pada mineral itu sendiri. Jika ∆x,y dapat dinilai, dan. mineral menunjukkan sedikit atau tidak ada dispersi, plat gips mungkin dapat digunakan. temukan letak pemunahan dari  mineral, kemudian belokkan  langkah ke  satu  dari dua 45° posisi di mana suatu arah yang berlawanan dengan perputaran jarum jam dari pengamat, kemudian belokkan  langkah ke  satu  dari dua 45° posisi di mana suatu arah yang berlawanan dengan perputaran jarum jam dari pengamat  diperlukan untuk merestor kembali peristiwa kepunahan. Kembalikan pengamat kepada posisi yang menyilang. Sekarang memasukkan gips dalam slot aksesori. Jika warna dari  butir kini biru, ∆x,y  adalah positif,  jika butir kini kuning, ∆x,y  adalah negatif. Itu diasumsikan  direksi sinar yang cepat dari plat adalah paralel ke panjangnya nya. Sebagai suatu ilustrasi, pemeriksaan suatu butir molibdenit yang menunjukkan belahan yang baik. Perputaran itu dilakukan sampai belahan menunjukan kepalarelan pada bidang polarisasinya. Sekarang perputaran berlawanan dengan arah jarum jam 45°. Pada suatu perlawanan tersebut pengamat akan menemukan cocok untuk restore extinction. Kembalikan pengamat kea rah menyilang dan masukkan gypsum ke plat. Butir akan menjadi biru, menandakan tanda positif. Jika, dengan prosedur yang sama, butir menguning, itu berarti tanda negative.
            Metode yang kedua  adalah dapat digunakan untuk nyaris suatu sangat sedikit mineral. Jika kandungan mineral rendah, test mungkin adalah dilaksanakan di dalam cahaya putih. Untuk setiap putran adalah 45° memposisikan  6-mm ke sasaran. Perputaran kedua-duanya pemberi ganti rugi mika dan penganalisis mungkin yang paling hitam dibentuk, dan menentukan nomor jumlah derajat tingkat dengan mana masing-masing. Jika kedua-duanya adalah rotat ke arah yang sama, tetapi pemberi ganti rugi mika diputar oleh suatu pengepos dengan  jumlah derajat tingkat, tanda adalah hal positif, Jika mika menyepuh  berputar jumlah yang lebih besar derajat tingkat, tanda adalah hal negatif. keduanya Prosedur yang yang diuraikan di atas mungkin (adalah) dicek untuk mangganit atau stibnite. Karena mineral ditentukan, tanda dari  beda lintasan adalah tetap untuk semua panjang gelombang, atau mungkin berubah dengan panjang gelombang, sedemikian sehingga tanda adalah hal positif untuk bagian dari spectrum, Karena panjang gelombang ditentukan, semua bagian bersudut empat dan mineral bersudut enam akan menunjukkan tanda yang sama beda fase oitlic. Jika suatu mineral adalah orthor hombic, monoklin, atau triklin, bagaimanapun, tanda mungkin (adalah) positif.
perputaran dari suatu mineral dapat ditentukan hanya jika mempunyai suatu arah perpecahan atau mengenal sumbu hablur yang parallel. Perputaran dialakukan apabila mineral kuat  terhadap perpecahan, dan perpecahan yang terjadi dinaikkan ke atas polarisator. Langkah selanjutnya kini diputar 450 berlawanan arah jarum jam, dan butir menjadi diterangi. Jika searah jarum jam perputaran penganalisis adalah diperlukan untuk mengembalikan pada keadaan semula. Pada monolibdid perputran menjadi positif hal ini menunjukkan perputaran tegak lurus dengan arah pecahan.

Azas ke 6 : Sumber alam yang terdapat di planet bumi adalah terbatas jumlah dan ukurannya


PENDAHULUAN

1.  LATAR BELAKANG
Pengetahuan  manusia terus berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, untuk itu dibutuhkan penggalian ilmu secara terus menerus, sehingga diperlukan daya cipta, daya khayal, keinginan tahu manusia dan inisiatif.
Ilmu Lingkungan merupakan salah satu ilmu yang mengintegrasikan berbagai ilmu yang mempelajari jasad hidup (termasuk manusia) dengan lingkungannya, antara lain dari aspek sosial, ekonomi, kesehatan, pertanian, sehingga ilmu ini dapat dikatakan sebagai suatu poros, tempat berbagai asas dan konsep berbagai ilmu yang saling terkait satu sama lain untuk mengatasi masalah hubungan antara jasad hidup dengan lingkungannya.
Asas di dalam suatu ilmu pada dasarnya merupakan penyamarataan kesimpulan secara umum, yang kemudian digunakan sebagai landasan untuk menguraikan gejala (fenomena) dan situasi yang lebih spesifik. Asas dapat terjadi melalui suatu penggunaan dan  pengujian metodologi secara terus menerus dan matang, sehingga diakui kebenarannya oleh ilmuwan secara meluas. Tetapi ada pula asas yang hanya diakui oleh segolongan ilmuwan tertentu saja, karena asas ini hanya merupakan penyamarataan secara empiris saja dan hanya benar pada situasi dan kondisi yang lebih terbatas, sehingga terkadang asas ini menjadi bahan pertentangan. Namun demikian sebaliknya apabila suatu asas sudah diuji berkali-kali dan hasilnya terus dapat dipertahankan, maka asas ini dapat berubah statusnya menjadi hukum. Begitu pula apabila asas yang mentah dan masih berupa dugaan ilmiah seorang peneliti, biasa disebut hipotesis Hipotesis ini dapat menjadi asas apabila diuji secara terus menerus sehingga memperoleh kesimpulan adanya kebenaran yang dapat diterapkan secara umum. Untuk mendapatkan asas baru dengan cara pengujian hipotesis ini disebut cara induksi dan kebanyakan dipergunakan dalam bidang-bidang biologi, kimia dan fisika.  Disini  metode pengumpulan data melalui beberapa percobaaan yang relatif terbatas untuk membuat kesimpulan yang menyeluruh. Sebaliknya cara lain yaitu dengan cara deduksi dengan menggunakan kesimpulan umum untuk menerangkan kejadian yang spesifik. Asas baru juga dapat diperoleh dengan cara simulasi komputer dan penggunaan model matematika untuk mendapatkan semacam tiruan keadaan di alam  (mimik). Cara lain juga dapat diperoleh dengan metode perbandingan misalnya dengan membandingkan antara daerah yang satu dengan yang lainnya. Cara-cara untuk mendapatkan asas tersebut dapat dikombinasikan satu dengan yang lainnya.

2.  MAKSUD DAN TUJUAN
Adapun maksud dan tujuannya sebagai landasan yang kokoh dan kuat untuk mendapatkan hasil, teori dan model seperti pada ilmu lingkungan. Sehingga akan ada batasan-batasan terhadap prilaku yang dilakukan terhadap lingkungan itu sendiri.

3.  BATASAN MASALAH
Batasan masalah pada pembahasan ini menjelaskan tentang sumber-sumber alam yang tidak dapat diperbaharui (tidak konstan) meliputi sumber alam yang apabila di ambil secara terus menerus akan habis. Dan dampak yang ditimbulkan apabila apabila di ambil secara terus menerus terhadap ligkunagan.



PEMBAHASAN

Sumber alam yang terdapat di planet bumi adalah terbatas jumlah dan ukurannya.
Sejak zaman purba kala telah tersimpan energi dalam perut bumi selama berjuta-jita tahun melalui proses fotosentesis yang ikut melibatkan tumbuhan-tumbauhan purba itu, berbagai energi hasil fotosentesis tersebut tersimpan dalam perut bumi sebagai materi yang telah mati dan tetap terkosenvir dalam bentuk fosil tampa mengalami pembusukan. Fosil-fosil tersebut ternya kini dikenala dengan sebutan batubara dan minyak bumi. Dan ada juga material-material penyusun batuan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan-bahan untuk kebutuhan hidup lainnya yang bnisa kita kenal dengan Mineral. Semua itu merupakan sumber alam yang sifatnya terbatas baik jumlah dan juga ukurannya atau Sumber daya yang sifatnya tidak konstan atau bisa di disebut juga sumber daya alam yang tidak dapat di perbaharui :

1.         Batubara
Batu bara atau batubara adalah salah satu bahan bakar fosil. Pengertian umumnya adalah batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik, utamanya adalah sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk melalui proses pembatubaraan. Unsur-unsur utamanya terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen.

1. 1. Umur batu bara
Pembentukan batu bara memerlukan kondisi-kondisi tertentu dan hanya terjadi pada era-era tertentu sepanjang sejarah geologi. Zaman Karbon, kira-kira 340 juta tahun yang lalu (jtl), adalah masa pembentukan batu bara yang paling produktif dimana hampir seluruh deposit batu bara (black coal) yang ekonomis di belahan bumi bagian utara terbentuk.
Pada Zaman Permian, kira-kira 270 jtl, juga terbentuk endapan-endapan batu bara yang ekonomis di belahan bumi bagian selatan, seperti Australia, dan berlangsung terus hingga ke Zaman Tersier (70 - 13 jtl) di berbagai belahan bumi lain.
1. 2. Pembentukan batu bara
Proses perubahan sisa-sisa tanaman menjadi gambut hingga batu bara disebut dengan istilah pembatu baraan (coalification). Secara ringkas ada 2 tahap proses yang terjadi, yakni:
·       Tahap Diagenetik atau Biokimia, dimulai pada saat material tanaman terdeposisi hingga lignit terbentuk. Agen utama yang berperan dalam proses perubahan ini adalah kadar air, tingkat oksidasi dan gangguan biologis yang dapat menyebabkan proses pembusukan (dekomposisi) dan kompaksi material organik serta membentuk gambut.
·       Tahap Malihan atau Geokimia, meliputi proses perubahan dari lignit menjadi bituminus dan akhirnya antrasit.

2.        Minyak dan Gas Bumi
Ada tiga faktor utama dalam pembentukan minyak dan/atau gas bumi, yaitu : Pertama, ada “bebatuan asal” (source rock) yang secara geologis memungkinkan terjadinya pembentukan minyak dan gas bumi.
Kedua, adanya perpindahan (migrasi) hidrokarbon dari bebatuan asal menuju ke “bebatuan reservoir” (reservoir rock), umumnya sandstone atau limestone yang berpori-pori (porous) dan ukurannya cukup untuk menampung hidrokarbon tersebut.
Ketiga, adanya jebakan (entrapment) geologis. Struktur geologis kulit bumi yang tidak teratur bentuknya, akibat pergerakan dari bumi sendiri (misalnya gempa bumi dan erupsi gunung api) dan erosi oleh air dan angin secara terus menerus, dapat menciptakan suatu “ruangan” bawah tanah yang menjadi jebakan hidrokarbon. Kalau jebakan ini dilingkupi oleh lapisan yang impermeable, maka hidrokarbon tadi akan diam di tempat dan tidak bisa bergerak kemana-mana lagi.
Temperatur bawah tanah, yang semakin dalam semakin tinggi, merupakan faktor penting lainnya dalam pembentukan hidrokarbon. Hidrokarbon jarang terbentuk pada temperatur kurang dari 65 oC dan umumnya terurai pada suhu di atas 260 oC. Hidrokarbon kebanyakan ditemukan pada suhu moderat, dari 107 ke 177 oC.

1. 1.  Umur Migas
Sekitar 30-juta tahun di pertengahan jaman Cretaceous, pada akhir jaman dinosaurus, lebih dari 50% dari cadangan minyak dunia yang sudah diketahui terbentuk. Cadangan lainnya bahkan diperkirakan lebih tua lagi. Dari sebuah fosil yang diketemukan bersamaan dengan minyak bumi dari jaman Cambrian, diperkirakan umurnya sekitar 544 sampai 505-juta tahun yang lalu.
Para geologis umumnya sependapat bahwa minyak bumi terbentuk selama jutaan tahun dari organisme, tumbuhan dan hewan, berukuran sangat kecil yang hidup di lautan purba. Begitu organisme laut ini mati, badannya terkubur di dasar lautan lalu tertimbun pasir dan lumpur, membentuk lapisan yang kaya zat organik yang akhirnya akan menjadi batuan endapan (sedimentary rock). Proses ini berulang terus, satu lapisan menutup lapisan sebelumnya. Lalu selama jutaan tahun berikutnya, lautan di bumi ada yang menyusut atau berpindah tempat.
Deposit yang membentuk batuan endapan umumnya tidak cukup mengandung oksigen untuk mendekomposisi material organik tadi secara komplit. Bakteri mengurai zat ini, molekul demi molekul, menjadi material yang kaya hidrogen dan karbon. Tekanan dan temperatur yang semakin tinggi dari lapisan bebatuan di atasnya kemudian mendistilasi sisa-sisa bahan organik, lalu pelan-pelan mengubahnya menjadi minyak bumi dan gas alam. Bebatuan yang mengandung minyak bumi tertua diketahui berumur lebih dari 600-juta tahun. Yang paling muda berumur sekitar 1-juta tahun. Secara umum bebatuan dimana diketemukan minyak berumur antara 10-juta dan 270-juta tahun.

1. 2.  Pembentukan Migas
Minyak bumi merupakan campuran rumit dari ratusan rantai hidrokarbon, yang umumnya tersusun atas 85% karbon (C) dan 15% hidrogen (H). Selain itu, juga terdapat bahan organik dalam jumlah kecil dan mengandung oksigen (O), sulfur (S) atau nitrogen (N).
Minyak bumi terbentuk dari organisme, tumbuhan, dan hewan, berukuran sangat kecil yang hidup di lautan purba. Begitu organisme ini mati, lalu terkubur di dasar laut dan kemudian tertimbun oleh pasir dan lumpur. Kemudian ia akan terbentuk lapisan yang kaya akan zat organik yang akhirnya akan menjadi batuan endapan. Proses ini berulang secara terus-menerus, sehingga satu lapisan akan menutup lapisan berikutnya. Dan ini berlangsung selama jutaan tahun. Selama jutaan tahun itu pula dimungkinkan lautan tersebut menyusut dan berpindah tempat karena adanya gerakan dari lempeng-lempeng bumi.
Endapan yang terbentuk ini umumnya miskin oksigen. Sehingga tidak dimungkinkan material organik dari organisme, tumbuhan, maupun hewan tersebut terdekomposisi secara sempurnya. Tetapi ada bakteri anaerob (tidak menggunakan oksigen dalam hidupnya) yang mengurai material ini, sedikit demi sedikit, molekul demi molekul, selama jutaan tahun menjadi material yang kaya akan hidrogen dan karbon. Seiring dengan terdekomposisinya material ini, muncul tekanan yang disebabkan oleh batuan yang mengendap di atasnya, sehingga temperatur dan tekanannya menjadi tinggi dan kemudian secara perlahan-lahan akan mengubah sisa-sisa bahan organik tersebut menjadi minyak dan gas bumi.
Minyak bumi yang dihasilkan ini kemudian akan bergerak ke lapisan batuan yang atas karena massa jenisnya yang rendah. Minyak bumi ini akan menuju batuan yang mempunyai pori-pori yang ukurannya cukup. Sehingga minyak akan terakumulasi di lapisan batuan tersebut. Lapisan batuan yang bisa mengandung minyak inilah yang disebut dengan reservoir minyak.
Batuan yang mengandung minyak bumi tertua yang diketahui berumur lebih dari 600 juta tahun. Sedangkan yang paling muda berumur sekitar 1-juta tahun. Bisa kita bayangkan berapa lama waktu pembentukan minyak bumi tersebut. Waktu pembentukan yang lama inilah yang menyebabkan minyak bumi termasuk sumber daya yang tidak dapat diperbarui. Sehingga sudah seharusnya lah kita menghemat penggunaan minyak bumi ini demi kelangsungan hidup manusia.

3.    Mineral
Mineral adalah produk dari suatu magama, dimana magma itu sendiri merupakan larutan silika panas ayng kaya akan elemen-elemen volatile, magma tersebut terbentuk jauh di bawah permukaan bumi melalui reasi panas dari massa padatan.
Selain dipengaruhi oleh komposisi dari suatu magma, endapan mineral itu pembentukannya dipengaruhi oleh gaya-gaya yang bekerja baik gaya endogen maupun gaya eksogen. Yang nantinya akan sangat berpengaruh terhadap struktur, bentuk, ukuran serta kondisi mineralnya. Disamping gaya-gaya yang bekerja ada media lain yang sangat berpengaruh, seperti : tekanan magma, gas, uap, padatan yang meleleh, atmosfer, organisme, dan batuan induk.
3.1  Pembentukan Endapan Mineral, dibagi 2 :
1.    Endapan mineral yang terbentuk bersamaan dengan terbentuknya batuan (syingenetik)
2.    Endapan mineral yang terbentuk setelah batuan yang mengandungnya terbentuk (epigenetik).

3.2  Pembentukan Endapan Mineral Diakibatkan karena adanya :
1.      Panas asal magma
2.      Metamofisme, tekanan dan temperatur.
3.      Pelapukan
4.      Pengendapan dari larutan permukaan.

Dampak Penambangan Terhadap Lingkungan
Pada zaman  sekarang ini kebutuhan akan sumber daya alam seperti batubara, migas dan mineral sangat besar sekali. Seperti kita ketahui bahwa sumber alam tersebut sangat berkaitan dengan suatu jaringan beruapa suatu ekosistem tersendiri. Terganggunya sumber alam akan menyebabkan terganggunya suatu ekosistem, karena kedua-duanya telah terikat dalam suatu ekosistem. Kerusakan alami secara wajar masih dapat memungkinkan kembali secara alami dalam kurun waktu tertentu. Namun apabila kerusakan itu bukan alami tetapi oleh manusia (proses penambangan) maka intensitas pengerusakan cukup kuat dan terus menerus, dimana suatu ketika alam tidak mampu lagi mengambalikan ekositem tersebut.
Pebambangan sumber alam hendaknya tidak menguras secara habis-habisan. Exploitasi suatu sumber alam harus dibatasi dalam variabel waktu sampai pada batas-batas tertentu untuk timbal-balik tidak mematikan sumber ini. Habisnya sumber alam yang terbatas dan tidak tergantikan akan menghambat dan menghentikan  eksistensi populasi.





KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat kita simpulkan bahwa :
1.    Ilmu Lingkungan merupakan salah satu ilmu yang mengintegrasikan berbagai ilmu yang mempelajari jasad hidup (termasuk manusia) dengan lingkungannya.
2.    Sumber daya alam yang jumlah dan ukurannya terbatas mempunyai nilai ekonomi yang sangat tinggi, sehingga pengambilan secara besar-besaranpun terjadi.
3.    Akibat dari pengambilan sumber daya alam secara besar-besaran yang tanpa mempertimbangkan lingkungan, bisa mengakibatkan terhambatnya bahkan mematiakan perkembangan populasi dari suatu ekosistem bahkan yang lebih besar lagi yaitu bioma.

Sistem Klasifikasi Tanah Berdasarkan AASHTO

Sistem klasifikasi AASHTO berguna untuk menentukan kualitas tanah guna pekerjaan jalan yaitu lapis dasar (subbase) dan tanah dasar(subgrade). Karena sistem ini ditujukan untuk pekerjaan jalan tersebut,maka penggunaan sistem ini dalam prakteknya harus dipertimbangkan terhadap maksud aslinya.
Sistem ini membagi tanah ke dalam 7 kelompok utama yaitu A-1 Sampai dengan A-7. Tanah yang terklasifikasikan dalam kelompok A-1, A-2, dan A-3 merupakan tanah granuler yang memiliki partikel yang lolos saringan No. 200 kurang dari 35%. Tanah yang lolos saringan No. 200 lebih dari 35% diklasifikasikan dalam kelompok A-4, A-5, A-6, dan A-7.
Tanah-tanah dalam kelompok ini biasanya merupakan jenis tanah lanau dan lempung. Sistem klasifikasi menurut AASHTO disajikan dalam Tabel 3.5 yang mana didasarkan pada kriteria sebagai berikut ini :
1. Ukuran partikel
a. Kerikil : fraksi yang lolos saringan ukuran 75 mm (3 in) dan tertahan pada saringan No. 10.
b. Pasir : fraksi yang lolos saringan No. 10 (2 mm) dan tertahan pada saringan No. 200 (0,075 mm).
c. Lanau dan lempung : fraksi yang lolos saringan No. 200.
2. Plastisitas : tanah berbutir halus digolongkan lanau bila memiliki indek plastisitas, PI ≤10, dan dikategorikan sebagai lempung bila mempunyai indek plastisitas, PI ≥11. Gambar 3.24 memberikan grafik plastisitas untuk klasifikasi tanah kelompok A-2, A-4, A-5, A-6, dan A-7.


Kualitas tanah sebagai bahan tanah dasar jalan raya, dalam AASHTO, dinyatakan dengan Indek Kelompok (group index, GI) yang ditulis didalam tanda kurung setelah kelompok atau sub-kelompok tanah. Indek kelompok ini diberikan dalam persamaan :

GI =(F200 – 35)(0,2 + 0,005) (LL – 40))0,01(F200 – 15)(PI – 10)
(3.20)

Dimana,F200 adalah persentase lolos saringan No. 200, LL dan PI adalah batas cair dan indek plastisitas. Suku pertama dalam persamaan (20), (F200 - 35)[0,2 + 0,005(LL - 40)] − + − merupakan bagian indek kelompok yang ditentukan dari batas cair. Sedangkan, suku keduanya yaitu 0,01(F200 - 15)(PI -10) adalah bagian dari indek kelompok yang ditentukan dari indek plastisitas. Berikut ini diberikan aturan untuk menentukan indek kelompok dari persamaan (3.20).
1. Jika persamaan (3.20) menghasilkan nilai GI negatif, maka ditetapkan sebagai 0.
2. Indek kelompok yang dihitung dari persamaan (20) dibulatkan ke nilai terdekat, misalnya : GI = 3,4 dibulatkan menjadi 3, GI = 3,5 dibulatkan menjadi 4.
3. Tidak terdapat batas atas untuk indek kelompok.
4. Indek kelompok tanah yang mengikuti kelompok A-1-a, A-1-b, A-2-4, A-2-5, dan A-3 adalah selalu 0.
5. Untuk tanah kelompok A-2-6 dan A-2-7, indek kelompok dihitung dari suku kedua persamaan (20), yaitu :
GI =0,01(F200 - 15)(PI - 10)

KLASIFIKASI TANAH BERDASARKAN AASHTO 1993

AASHTO sistem mengklasifikasikan tanah menjadi 7 bagian besar, yaitu :
1.        A-1 (A-1-a ; A-1-b), kelompok ini termasuk granular.
2.        A-2 (A-2-4 ; A-2-5 ; A-2-6 ; A-2-7), A-3, termasuk kelompok gravel dan sand.
3.        A-4, A-5 (fine), A-6((silt dan clay), A-7.
1. Metoda AASHTO’93
Salah satu metoda perencanaan untuk tebal perkerasan jalan yang sering digunakan adalah metoda AASHTO’93. Metoda ini sudah dipakai secara umum di seluruh dunia untuk perencanaan serta di adopsi sebagai standar perencanaan di berbagai negara. Metoda AASHTO’93 ini pada dasarnya adalah metoda perencanaan yang didasarkan pada metoda empiris. Parameter yang dibutuhkan pada perencanaan menggunakan metoda AASHTO’93 ini antara lain adalah :
a. Structural Number (SN)
b. Lalu lintas
c. Reliability
d. Faktor lingkungan
e. Serviceablity
1.1 Structural Number
Structural Number (SN) merupakan fungsi dari ketebalan lapisan, koefisien relatif lapisan (layer coefficients), dan koefisien drainase (drainage coefficients). Persamaan untuk Structural Number adalah sebagai berikut :
SN = a1D1 + a2D2m2 + a3D3m3 …………………………………..(Pers.1)
Dimana :
SN = nilai Structural Number.
a1, a2, a3 = koefisien relatif masing‐masing lapisan.
D1, D2, D3 = tebal masing‐masing lapisan perkerasan.
m1, m2, m3 = koefisien drainase masing‐masing lapisan.



Senin, 04 Oktober 2010

BEGAREHAN

Begarehan merupakan suatu tradisi masyarakat pagaralam yang turun temurun dari dahulu sampai dengan sekarang ini, yaitu perkenalan atau interaksi antar pria dan wanita pada malam hari dalam suasana persedekahan yang diadakan oleh ahli rumah (si penganten),dengan tujuan untuk untuk membuat suasana persedekahan ramai. 

Dia adalah saran untuk mendapatkan jodoh, keberanian dan pengalaman yang sangat bermain disini terutama bagi sang pria. Bagi pria yang berani berpengalaman akan sangat mudah sekali berkenalan dengan wanita. Yang sanagat menganehkan banyak di antara pria-pria yang mengungkapkan perasaannya pada saat begarehan... hahaha!!! Lucu-lucu memang.

Begarehan di zaman sekarang sudah mengalami perubahan total. Dahulu begarehan sangat kental dengan norma-norma agama, sedangkan begarehan sekarang jarak antara pria dan wanita sudah hampir tidak ada lagi yang membatasi, norma-norma agama dan adat istiadat yang dulu kental sekarang sudah dianggap basi.

Dahulu masih sangat kental sekali dengan kata-kata singkuh, ach.. tapi sekarang kata-kata itu lenyap ditelan zaman. Dahulu masih sangat kental sekali dengan kata-kata bejage, tapi sekarang sudah di ganti dengan kata-kata mumpung masih gi mude. Dahulu orkes, robanahan, sekarang organ tunggal. Entah apakah ini perubahan yang baik atau perubahan yang buruk?? Tampaknya semua orang menikmatinya, berlombah-lombah unjuk diri bahwa akulah yang paling hebat.

“aku rindu dengan kata-kata singkuh, aku rindu dengan kata bejage, aku rindu, aku rindu dengan norma-norma agama dan adat istiadat. Karena dengan itu akhlak dalam begarehan akan lebih baik. Dan aku hanya bisa merindukannya” 

By: Alek Al Hadi (peghulehan balek riaye)

Minggu, 03 Oktober 2010

"wahai akhwat facebookers"

Duhai akhwat yang kukagumi
Yang memiliki iman di hati
Dengarlah suara hati para lelaki
Sudahi menebar simpati
Hentikan bermanja pada kami
Kami ikhwan biasa yang tidak suci
Yang ingin teguh di jalan Ilahi.

Duhai yang kukasihi para akhwat
Yang memiliki malu, hormat dan martabat
Kami adalah pria biasa yang mudah terpikat
Iman kami tak sekuat para nabi dan shahabat
Fotomu bertebaran menggoda dan mengusik syahwat
Kecantikanmu menembus hati yang taat syariat.

Duhai akhwat yang kusanjungi
Jangan hajar emosi dan jiwa kami
dengan perhatian yang murah
Jiwa ini terasa gerah
dengan pujian yang membuncah.

Duhai akhwat yang kupuja
Engkau adalah mutiara berharga
Harapan bangsa dan agama
Bukan hanya fisik yang harus dijaga
Akhlak juga harus dihiasi
dengan lembaran hidup islami

Engkau akan terlihat anggun
Bukan karena pengagummu yang berjibun
Tapi karena sikapmu yang santun
Engkau semakin mempesona
Dengan izzahmu yang terjaga
Engkau semakin cantik memikat
Karena kepribadianmu yang sesuai syari'at
Renungkanlah duhai akhwat…

be carefull with me...

“Cintaialah seseorang yang dapat mendatangakan cinta kepada Allah”


Hahaha... aku teringat kepada sesosok wanita, wanita yang dulu dan sampai dengan sekarang aku mencintainya. Sesosok wanita berkulit putih, berwajah manis, berkerudung. Sesosok wanita dari SMP aku mengenalnya dan perasaanya cintapun mengalir di hati sanubariku, dia anak seorang alim, seorang guru, dengan aturan-aturan agama yang baik. Pola pikirnya dan pandangnya kedepan yang sangat menawan. Laki-laki seperti apa yang tidak akan suka dengannya....???
Hahaha... aku juga teringat dia adalah sesosok wanita yang sangat-sangat rama, sopan santun, pandai bergaul. Perasaaan cinta berterbangan menjadi satu saat bertemu dengannya, bak kupupu yang menggelitik perutku sehingga aku menjadi kaku dan sedikit agak pemalu. Dia adalah sesosok wanita yang sedang menempuh kuliah di semester sedikit lebih atas dari saya.... kwkwkwk
Hahaha... bahkan lebih dari itu, dia adalah seorang wanita shalehah, dari bida-dari surga yang turun kedunia. Aku terkesan mendengar lantunan ayat suci Al-qur’an yang keluar dari mulutnya, dengan nada yang menghanyutkan batin bagi siapa yang mendengarnya.
Hahaha... Cinta-cinta!!! Engkau bisa menjerumuskan seseorang yang tidak beriman kepada lubang yang dalam nan gelap gulita. Engkau juaga bisa menggelamkan seseorang yang tidak memiliki kapal yang kokoh untuk menahan hempasan ombak. Engkau juga bisa mengelincirkan seseorang kepada jurang kehinaan.
Hahaha... Dibalik semua itu, cinta juga bisa mendatangkan cinta kepada yang maha hidup dan menghidupkan yang cintaNya tidak bermusim. Oleh karena itu, “Aku mencintainya karena cintaku kepadanya bisa mendatangkan cinta kepada Allah”
“insya’Allah 5 tahun lagi, aku akan melamarmu untuk menjadikanmu teman yang sejati buat menemani perjuangan ini, untuk menjadikanmu ibu dari anak-anak yang shaleh dan shalehah”.
Palembang, 25 syawal 1431 hijriah.
By: Alek Al Hadi                                                                                to: Seseorang????